We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
IMMORAL (Orine)

IMMORAL (Orine)

  • WpView
    Reads 3,310
  • WpVote
    Votes 587
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 14, 2026
WpInfo
Fanfic
Suara riuh terdengar dari backstage. Mereka bersorak. Begitu gaduh. Tapi Oline merasa digelandang, entah kemana. Menapaki lantai yang begitu dingin. Menusuk. Seluruh tubuhnya bergetar. Sorot matanya layu menembus pelupuk mata Erin yang sendu Desahan menyesakan menulikan kebisingan. Oline kesulitan bernapas. Dadanya sesak. Wajah yang sepanjang hari ia lindungi setengah mati menatapnya dengan tatapan terluka. Sesuatu mengiris-ngiris hatinya ketika air mata meleleh ke pipinya. "Besok dan seterusnya mungkin udah jadi rahasiaku Rin, kamu nggak perlu tebak dan nggak perlu gelisah. Tolong hiduplah sebaik-baiknya hari ini...." Oline gemetar menahan tangis, bibirnya bergerak-gerak getir mengukir senyum. Di depannya Erine menggeleng. Air matanya sudah tumpah dengan jelas. Batinnya sudah koyak. Tangannya mengepal erat menahan isak. Oline dengan ragu mundur perlahan, kemudian memutar tubuhnya. Ia berjalan dengan gemetar. Seluruh persendiannya terasa ngilu. Ia kehilangan tenaga. Semuanya sudah berakhir. Erine tahu, ia sudah tidak bisa menahanya untuk tetap tinggal. Dan Erine merasakan suasana hening yang menyayat. Di tengah riuhnya orang-orang hanya ia yang terpekur sendiri. Meraung menangisi kebodohannya. Menangisi egonya. Menangisi kepergian seseorang yang begitu ia cintai. Erine membisikan namanya pelan. Memanggil namanya dalam samar. Oline sudah lenyap. Tak ada lagi suara. Bagi Oline, Erine adalah satu titik temu dari seri serangkaian arah yang nyaris tak berujung pangkal. Tak beralasan keraguan itu. Tak beralasan keputusasaan itu. Dia ada di sini. Dalam rindunya. Dalam rasanya. Dalam cintanya. Mereka sama perempuan. Mereka sama saling mencintai. Dunia tak boleh bilang apa-apa. Tapi mereka tak boleh bersama.
All Rights Reserved
#72
jkt48
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secret Rivals | ORINE
  • Semua Tentang Orine
  • Satu Rasa ( Erine Oline ) END
  • Parahyangan Setelah Hujan
  • Friends to Married (ORINE) [END]
  • The Missing Pieces (END)
  • Dua Orang Yang [Tidak] Terlarang (END)
  • Disarankan di Bandung: 2 Minggu bersama KaviCia [End]
  • ORINE [END]
  • Owned by Manuelle.

"Hai, Bebek," Sapa Oline sambil tersenyum mesra. "Hai, Sipit," Sahut Erine, gemetar menahan gejolak emosi yang hampir meruntuhkan air matanya. Mereka berasa dari kekuarga yang saling bersinggungan. Saat masih duduk di bangku sekolah, Guru memisahkan mereka karena Cinta yang lahir prematur. Setelah dewasa, perpisahan dan perselisihan orangtua menghambat hubungan mereka yang dianggap tak sesuai dengan keinginan orangtua. "Nggak perduli siapa ayahmu, Rin. Aku akan tetap ikut kemanapun kamu pergi..." Mampukah Oline menepati janjinya? Mampukah Erine menerima kembali kehadiran Oline setelah bertahun-tahun menghilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines