Kuarsa
  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 5 hours ago
Kalau aku diberi kesempatan kedua, apakah aku akan memilih dengan cara yang berbeda? Kadang kita membayangkan bahwa kebahagiaan akan datang jika diberi kesempatan mengulang hidup. Namun bagaimana jika kesempatan itu benar-benar datang? Setelah sebuah kecelakaan, Maya kembali ke masa lalu dan bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah membentuk hidupnya. Di antara kenangan -yang belum terjadi dan masa depan yang masih samar, ia memiliki kesempatan kedua. Kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda. Kesempatan untuk menghindari kesalahan yang pernah terjadi. Mungkin juga kesempatan untuk tidak jatuh cinta pada orang yang sama. Maya memilih menjalani kehidupan keduanya dengan respons berbeda -tanpa mengubah takdir yang pernah diterimanya. Namun takdir bergeser, semakin ia menyadari bahwa beberapa pertemuan tidak pernah terjadi secara kebetulan. Perubahan terbesar mungkin bukan terletak pada takdir, melainkan pada diri manusia itu sendiri. Karena mungkin kesempatan kedua bukan diberikan untuk mengubah masa lalu. Melainkan untuk memahami hati dengan lebih utuh.
All Rights Reserved
#211
lovestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines