(Untuk komsumsi pribadi.)
SINOPSIS:
Hari itu di koridor sekolah, suasana berlalu lalang seperti biasa. Namun Raffi sedang galau berat semenjak kabur dan diam-diam tinggal di gudang belakang rumah Arifin karena mendengar kabar pernikahan Ibu Diana.
Melihat sahabatnya melamun, Arifin-cowok blasteran Jerman-Sunda dengan senyuman manisnya-langsung menyenggol bahu Raffi bersama Irwansyah yang berkacamata.
"Gila lu, Fi. Muka udah kusut kayak baju belum disetrika seminggu. Udahan dong galaunya, kan ada kita di sini!" hibur Arifin.
"Betul kata Arifin, Fi. Lagian ngapain sih betah banget ngumpet di gudang? Untung nggak digigit kecoa," tambah Irwansyah membenarkan letak kacamatanya.
Tiba-tiba, Sofi dan Wulan datang memanggil Raffi. Mereka membawa Raffi duduk di bangku taman dan menyodorkan hadiah agar Raffi tidak bersedih lagi. Namun, keduanya malah saling berebut ego.
"Raffi, kamu harus pilih hadiah dari aku! Ini lebih berguna buat kamu!" seru Sofi.
"Nggak bisa gitu dong, hadiah dari aku tuh jauh lebih spesial. Pilih punya aku aja, Fi!" potong Wulan.
Siswa-siswi yang melihat Raffi diperebutkan langsung bersiul menggoda, tepat ketika sebuah gelang dan kotak hadiah kecil terjatuh ke lantai akibat perebutan itu.
Seketika, seluruh mata tertuju pada dua siswi baru yang muncul dan tampil sangat kontras.
Gadis pertama, Cynthia, tampil berani dengan kulit kuning langsat, bibir merah muda, dan senyuman manis. Rambut hitam pekatnya dikepang kecil-kecil dengan hiasan berwarna-warni, dibalut pakaian merah dan blazer cokelat. Sambil tersenyum lebar, ia berjongkok merebut dan memungut hadiah yang jatuh.
"Ini punyamu?" tanya Cynthia kepada Raffi.
Tepat di belakang Cynthia, berdiri Angel. Sosoknya tampak rapi dengan pakaian putih yang membingkai tubuh ramping dan seksinya. Kulitnya sepucat susu, kontras dengan rambut hitam pekat yang panjang dan lurus. Di balik poni samping bertabur jepitan mutiara, sepasang mata biru misterius dan bulu mata lentik hitamnya menatap datar tanpa senyuman.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang