Touch Me When Nobody's Watching

Touch Me When Nobody's Watching

  • WpView
    Reads 20,719
  • WpVote
    Votes 2,733
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 10, 2026
Sejak pertama kali menginjakan kakinya di SMA Pelita Adhirajasa, Oliver sudah tahu bahwa hidupnya tidak akan tenang seperti biasanya. Setiap pagi mejanya akan dipenuhi dengan coretan dan umpatan-umpatan kasar, juga pukulan yang akan ia dapatkan apabila tidak menuruti perkataan mereka. Oliver hanya bisa diam, meratapi nasibnya yang mengenaskan sebagai orang yang tidak bisa melawan. Namun bagaimana jika Kendrick yang dikenal sebagai pentolan sekolah itu tiba-tiba menolongnya dari neraka yang menjeratnya? tapi nyatanya dia datang bukan untuk menolongnya, melainkan untuk membawa Oliver menuju neraka yang lebih dalam dan hanya dia yang bisa menahannya disana. ... "Oliver... kenapa lo bisa secantik ini?" Tangan besar Kendrick dengan kasar mencengkram rahang Oliver didepannya. Mata tajamnya menelusuri seluruh jengkal wajah pemuda manis itu, kemudian sebuah senyuman miring muncul di wajah Kendrick. Senyuman yang membuat Oliver merasakan bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan, bahkan kini Oliver hanya bisa memejamkan matanya seraya berdoa agar ia tidak mati hari ini. "Jangan takut sayang, udahan ah pura-puranya. Gua kangen." ... Happy reading // @deforgest Start 19 Juni 2026 - Jadi lah pembaca yang bijak.
All Rights Reserved
#994
bxb
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines