Aluna punya satu aturan hidup: _Semua laki-laki sama. Tukang ingkar janji._
Traumanya dari SMP ngajarin dia buat nggak percaya siapa-siapa. Apalagi cowok. Makanya dia nutup pintu rapat-rapat.
Kale nggak pernah ketok pintu itu.
Dia cuma duduk di depan halte jam 4 sore, nyodorin earphone kiri, dan buktiin kalau nggak semua cowok hobi janji. Ada juga yang diem tapi selalu dateng.
Masalahnya ada Jevan.
Drummer berisik, mulut ember, mak comblang nasional. Misi hidupnya: jodohin Kale sama Aluna. Caranya? Ngunci mereka di gudang, ngatur piket bareng, dan teriak "JODOH" tiap mereka napas barengan.
Aluna benci.
Kale diem.
Jevan makin jadi.
Bahagianya: ada lagu yang cuma mereka berdua tau artinya.
Lukanya: Aluna masih nunggu Kale buktiin kalau dia nggak sama kayak yang lain.
Ini bukan cerita tentang jadian.
Ini cerita tentang dua orang yang punggung-punggungan, dibagi satu earphone, dan sama-sama takut nyeberang duluan.
Kalau semua hujan bikin basah, Kale mau jadi atap.
Tapi Aluna udah terlalu sering kedinginan.
_Makasih atas bahagianya, Le._
_Makasih juga atas lukanya, Lun._
_Kita impas?_
"Gue nggak janji bakal selalu ada. Tapi kalau lo balik, gue masih di sini. Nggak ke mana-mana." - Kale
"Semua laki-laki sama. Kale? Nggak tau. Tapi kalau dia ninggalin juga... yaudah. Minimal pernah ada yang buktiin nggak semua alarm palsu." - Aluna
"Gue nggak jodohin. Gue cuma ngasih jalan. Nyeberangnya kalian sendiri." -Jevan
---
Kalau kamu pernah takut percaya lagi, cerita ini buat kamu.
Kalau kamu tim nunggu, tim diem, atau tim mak comblang kayak Jevan, komen ya. Kita impas bareng-bareng.
Update: Seminggu 2x kalau Jevan nggak berisik.
Vote + komen biar Kale berani ngomong duluan 😤
---
All Rights Reserved