DEDE POLOS || SALDIK

DEDE POLOS || SALDIK

  • WpView
    Reads 14,929
  • WpVote
    Votes 1,602
  • WpPart
    Parts 35
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 10 hours ago
Sumbu pendek, bermulut toxic, dan kejam adalah definisi Affan Faisal, ketua geng motor EROZSKAN. Namun, seluruh taringnya mendadak rontok saat berhadapan dengan Andika Ari Pradana-si Dede Polos yang kelewat lugu. Faisal mati-matian menahan gairah liarnya demi menjaga mata suci itu agar tidak menangis. Dunia boleh hancur, tapi kepolosan Dika hanya milik Faisal seorang. B x b HANYA KARANGAN!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines