Kenakalan Aurelia, Engineer seksi di atas Drilling Rig

Kenakalan Aurelia, Engineer seksi di atas Drilling Rig

  • WpView
    Reads 844
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2026
"Wah, Mbak Aurelia memang benar-benar terbuka ya," ujar Bambang dengan nada menggoda. "Kebetulan sekali. Saya sedang bosan. Bagaimana kalau kita main kartu berlima? Saya, kalian bertiga, dan Mbak Aurelia." Sandi dan Doni saling berpandangan. Ada binar semangat yang tidak bisa disembunyikan. "Main kartu, Pak? Boleh juga," sahut Doni cepat. Bambang mengeluarkan satu set kartu dari sakunya. Dia meletakkannya di meja kecil tengah ruangan. "Tapi ada aturannya," lanjut Bambang. "Mbak Aurelia tetap seperti ini, telanjang dada. Dan setiap pemenang di setiap putaran, boleh melakukan apa saja pada payudara Mbak Aurelia. Boleh memegang, boleh mencium, atau bahkan... nenen sepuasnya." Keheningan kembali menyergap, namun kali ini keheningan itu penuh dengan ketegangan seksual. Sandi dan Doni tampak seperti remaja yang baru pertama kali melihat wanita. Mereka sangat bersemangat. "Setuju, Pak!" seru Sandi. Namun, Pak Heru tiba-tiba berdiri. Wajahnya tampak kecewa dan sedih. "Maaf, Pak Bambang. Saya tidak bisa ikut," ujar Pak Heru dengan suara rendah. Bambang mengernyit. "Kenapa, Pak Heru? Cuma main kartu saja." Pak Heru menatap Aurelia sekilas, lalu menggeleng. "Mbak Aurelia... kamu mengingatkan saya pada anak perempuan saya di kampung. Saya tidak bisa melakukan ini. Saya permisi keluar dulu." Pak Heru melangkah keluar kamar dengan bahu yang merosot, meninggalkan suasana yang kini terasa lebih liar. Aurelia melihat ke arah pintu, ada sedikit rasa bersalah, namun rasa itu segera hilang saat dia merasakan tatapan lapar dari Sandi dan Doni. Dia melirik Bambang dan mengedipkan mata. "Jadi," Aurelia bersandar di kursi, membusungkan dadanya hingga putingnya yang memerah terlihat sangat jelas oleh ketiga pria di sana. "Siapa yang mau mulai kocok kartunya?" Bambang tertawa, suara beratnya memenuhi ruangan. "Mari kita lihat, siapa yang paling beruntung malam ini."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Susu Bu Hany
  • Siomay Mang Jaka [21+] NEW STORY
  • SP - 21+
  • Pesugihan Tuyul Penghancur Pernikahan
  • Kehamilan Ratna
  • ISTRIKU MENJADI BINTANG FILM DEWASA AMATIR (PUBLIC AGENT)
  • Sakura (High H)
  • Saffa Jannah
  • Candu Mertua (End PDF)
  • HORNY

Tiba-tiba, Pak Tejo melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia meraih batangnya yang masih lemas, mengarahkannya ke mulut Hany. Hany menatapnya bingung. "Bu, aku... aku mau kencing," Pak Tejo berkata, suaranya sedikit malu. Hany terdiam. Kencing? Di mulutnya? Itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga. "Tidak, Tejo. Jangan gila," Hany menolak, wajahnya sedikit mengeras. "Sebentar saja, Bu," Pak Tejo memohon, matanya memancarkan hasrat yang aneh. "Aku janji sebentar saja." Hany ragu. Ini melampaui batas yang ia bayangkan. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Pak Tejo yang membuatnya penasaran. Keinginan untuk mencoba sesuatu yang benar-benar baru, yang lebih ekstrem. "Baiklah," Hany akhirnya setuju, suaranya kecil. "Tapi jangan banyak-banyak." Pak Tejo tersenyum penuh kemenangan. Ia mengarahkan ujung batangnya yang masih lembek ke mulut Hany. Hany membuka mulutnya, sedikit khawatir. Lalu, Pak Tejo mulai mengencingi mulut Hany. Cairan hangat mengalir masuk, rasanya sedikit pahit dan berbau pesing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines