Ghosts Never Leave a Haunted House

Ghosts Never Leave a Haunted House

  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadOngoing3h 35m
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 16, 2026
WpInfo
Fiction
Culture and Identity
Social Themes
Coming of Age
Abuse and Trauma
"Masuk!" Tante Sinta membentak, bukan suatu hal yang baru. Tubuhku sedikit tersentak ketika si indra pendengar terekspos dengan suara dentuman pintu mobil yang dibanding kasar. Kasihan juga Tante Sinta, harus menghentikan pekerjaannya di pukul 10.38 pagi seperti ini hanya karena keponakannya yang lagi-lagi berkelahi dengan siswa lain. "Tante tuh gak ngerti mau kamu apa sebenarnya." Dia mulai mengeluarkan unek-uneknya seperti biasa. Pedal rem diinjak tiba-tiba, kepalaku nyaris membentur dasbor mobil. Tante Sinta menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping, menatap wajahku yang penuh dengan luka dan lebam. Kini ekspresinya berubah menjadi prihatin. "Tante kasihan sama kamu, Kalina ... Tante gak bohong. "Tapi kalau kamu gini terus, kamu ngeganggu kerja Tante juga. Terus yang mau bayar sekolah kamu siapa? Yang mau biayain hidup kamu siapa kalau bukan Tante?" "Aku gak pernah mukul siapa-siapa." Aku membela diri. Tante Sinta meraup wajahnya frustrasi, menunjukku dengan seluruh jari di tangan kanannya. "Justru itu, Kal! Justru itu! Kamu seakan-akan cari gara-gara biar dipukulin." Aku terdiam. Tidak bisa menahan senyum. "Kamu gak pernah ngelawan dan ... ugh!" Tante Sinta menggeram penuh dendam. "Tante gak tahu kenapa kamu ikut diskors juga sama anak-anak nakal itu." Aku yakin aku tidak dikeluarkan dari sekolah hari itu, hanya diskors seperti biasa. Satu pekan, dua pekan mungkin? Aku tidak tahu. Namun, ketika aku dimasukkan kembali ke sekolah, sekolah itu sudah bukan sekolahku yang dulu. "Tante masukin aku ke asrama?" tanyaku tajam saat kami sudah berada di hadapan bangunan luas yang menjulang tinggi dengan aksen merah dan biru yang didominasi dengan warna putih. Wajah Tante Sinta tersenyum, senyumnya terlihat lelah, seperti orang yang sudah tidak tahu harus melakukan apa-mungkin memang wanita itu sudah tidak tahu harus melakukan apa dan Pratama Boarding School ini seakan-akan menawarkan harapan untukku berubah. Shit. Kayaknya gue salah strategi. ***
All Rights Reserved
#933
darkcomedy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ms. Sinclair's Secret
  • Mah-e-Noor: Between Love and Loneliness
  • ကျုပ်မြတ်နိုးရပါသော ဒေါက်တာ [ Completed ]
  • "ကိုယ့် ဘဝ အခရာ"
  • Jevanya: Their lost sister
  • မွေးစားဖေဖေ(completed)
  • " မူယာကြော့ ကိုယ်ဟန်ချီ "
  • Setelah Semua Orang Pergi
  • When a Witch Loves a Wolf
  • Meher~ The sister they buried alive

| teacher x student | wxw | slow burn | When 19-year-old Lena James enters English Literature class, she expects nothing special. Instead, she meets Ms. Sinclair her cold, sharp-tongued British literature teacher. Elegant, cutting, and unbearably superior. From the very first lesson, the 34-year-old woman seems to take pleasure in dismantling Lena's every opinion with cruel precision. Lena hates her. She hates the condescending red marks on her essays, the raised eyebrow that makes her feel small, and the way Ms. Sinclair lingers in her thoughts long after class ends. But hate this intense has a way of twisting into something far more dangerous. With a strict 15-year age gap and an unbreakable teacher-student boundary, their slow-burning tension threatens to break every rule both in literature and in real life. Some lessons aren't taught kindly. And some hatreds taste too much like desire. "Ms. Sinclair's Secret"

More details
WpActionLinkContent Guidelines