Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

  • WpView
    Reads 113
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 23, 2026
Sebuah cerita untuk Sean. Bagi semua orang, Sean adalah pusat perhatian. Namun di masa SMA, dunia cowok itu hanya berputar pada satu nama: Lintang. Hubungan mereka yang sudah berjalan lama terasa begitu kokoh, sebelum akhirnya realita memaksa mereka untuk berpisah di tengah jalan. Ditengah melewati masa-masa sepi pasca patah hati, Sean akhirnya bertemu dengan Alana, gadis ceria berpipi merah muda yang perlahan menyembuhkan lukanya. Semua orang percaya kisah cinta Sean telah menemukan pelabuhan terakhirnya yang sempurna. Sampai pada suatu malam di sudut restoran yang ramai, sebuah tatapan mata canggung membuka rahasia yang selama ini membeku di dalam diam. Sebab di antara garis masa lalu bersama Lintang dan garis masa depan bersama Alana... sebenarnya ada satu garis waktu sunyi yang tidak pernah Sean sadari keberadaannya.
All Rights Reserved
#42
moveon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines