Dua Kutub Satu Frekuensi

Dua Kutub Satu Frekuensi

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jul 11, 2026
Kita berdua tahu, kita berasal dari dunia yang berbeda. Kamu adalah keheningan yang nyaman, dan aku adalah kebisingan yang mencari arah. Secara logika, kita seharusnya saling menjauh. Namun, cinta tidak pernah peduli pada rumus fisika. "Dua Kutub Satu Frekuensi" mengisahkan tentang dua jiwa yang terpisah jarak dan kepribadian, namun dipertemukan oleh luka dan harapan yang serupa. Sebuah cerita tentang bagaimana dua orang yang paling tidak selaras di dunia, justru menemukan melodi paling indah saat mereka mulai mendengarkan satu sama lain.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines