BINTANG YANG DISELIPKAN [On Going]

BINTANG YANG DISELIPKAN [On Going]

  • WpView
    Membaca 2
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Jun 20, 2026
17+ Sinopsis: Erisha, 17 tahun, hidupnya berubah sejak Savero, kakak sepupunya yang 22 tahun, pulang dari Jakarta. Di mata semua orang Savero sempurna. Anak hukum, sopan, anak baik. Mama dan Ayah Erisha yang sibuk jadi tenang karena ada dia yang "jagain" Erisha. Rehan, kakaknya, juga terlalu sibuk skripsi buat curiga. Tapi Erisha ngerasa ada yang salah. Savero tau semua tentang dia. Jadwal les, makanan favorit, sampai ketakutan kecilnya waktu SD. Semua dikasih pelan-pelan, pake senyum datar dan kalimat, "Aku cuma mau kamu aman, Esha." Erisha takut. Tapi dia juga nggak bisa bohong kalau dari kecil dia nyaman berada di dekat Savero. Rasa nyaman yang perlahan berubah, menumbuhkan rasa suka yang Erisha tau bahwa mereka 'setidak mungkin itu' untuk bersama. Dan dimana saat Savero mulai nggak bisa nyembunyiin obsesinya, Rehan jadi orang pertama yang pasang badan untuk melindungi adiknya dari tingkah gila Savero. Erisha dilanda bingung, mau lari dari jeratan Savero... atau jatuh ke pelukan yang dari dulu dia tunggu.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Chasing Sanara

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan