Cinta Versi Ali Bin Abi Thalib
Di balik tembok pesantren yang tenang, ada kisah cinta yang tak pernah benar-benar selesai.
"lan, ente serius ngasih tania ke tegar? katanya sayang banget." tanya Alvin, menyentil hati yang selama ini diam.
Alan tak membantah, hanya mengingatkan satu kalimat yang jadi pegangan hidupnya,
"ali bin Abi Thalib pernah berkata, kalo kamu mencintai seseorang biarkan dia pergi, jika dia kembali berarti dia milik mu."
Senyumnya kecil, matanya menunduk, tapi hatinya berkecamuk.
Alvin yang blak-blakan tak terima,
"ciailah lemah bet mental ente, berusaha dong kalo cinta."
Namun Alan tetap berdiri pada pilihannya.
"Ane ga bisa maksa vin, ane cuman bisa berusaha lewat doa aja."
Percakapan berhenti ketika langkah Alan beranjak memecah keheningan, menuju masjid untuk adzan isya.
"ayo sholat," teriak Alan pada Alvin.
Novel ini bukan sekadar romantika remaja, tetapi perjalanan seorang pemuda yang belajar bahwa cinta kadang bukan tentang memegang-melainkan merelakan. Antara diam, doa, dan takdir... apakah Tania akan kembali, atau justru benar-benar pergi?