Sejak ibunya meninggal, hidup Sellyn tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Di usia delapan belas tahun, ia berusaha mempertahankan Abigail Bakery, toko kecil peninggalan sang ibu yang menjual aneka roti, viennoiserie, dan dessert khas Prancis. Namun pelanggan semakin sedikit, masa sewa hampir berakhir, dan tabungan yang tersisa tak cukup untuk membuat toko itu bertahan lebih lama.
Di tengah semua kekacauan itu, Sellyn masih membuat crème brûlée setiap pagi-dessert favorit mendiang ibunya dan satu-satunya hal yang selalu mengingatkannya pada rumah.
Saat Sellyn mulai menyerah dan mempertimbangkan untuk menutup Abigail Bakery selamanya, seorang pelanggan bernama Clarissa datang ke tokonya. Setelah mencicipi beberapa menu, Clarissa menawarkan kesempatan yang tak pernah Sellyn bayangkan: menjual seluruh produk bakery dan dessert buatannya di Nook Coffee, kedai kopi milik putranya yang selama ini hanya menjual minuman.
Kesempatan itu mempertemukan Sellyn dengan Noel.
Berbeda dengan Sellyn yang mewarisi sebuah toko, Noel membangun Nook Coffee dari nol dengan kerja kerasnya sendiri. Di balik kesuksesan kedainya, Noel menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh setelah ditinggalkan tanpa penjelasan oleh seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.
Awalnya, Sellyn dan Noel hanya dua orang asing yang bekerja sama demi menyelamatkan bisnis mereka masing-masing. Namun, di antara aroma kopi yang baru diseduh, croissant hangat yang baru keluar dari oven, dan hari-hari yang perlahan terasa lebih ringan, keduanya mulai menemukan kenyamanan yang tak pernah mereka cari.
Sampai Jingga kembali.
Kehadiran seseorang dari masa lalu membuat Noel dihadapkan pada pilihan yang selama ini ia hindari. Sementara Sellyn harus belajar bahwa tidak semua orang yang datang membawa harapan akan memilih untuk tetap tinggal.
All Rights Reserved