We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Kita, tapi belum

Kita, tapi belum

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 22, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Highschool
Slow Burn
Theo dan kania merupakan teman sekelas. Namun mereka jarang sekali berinteraksi, kecuali ada hal yang sangat penting. Keduanya memang terbilang cukup introvert dari pada teman temannya yang lain. Hingga suatu hari Theo meminjam buku catatan Kania. Lalu sebuah konflik kecil terjadi di pagi hari. Sampai waktu Theo berterima kasih kepada Kania. Tanpa disangka respon kecil dari Kania dapat mengubah sudut pandang Theo terhadap Kania. Dari situlah semua terjadi, Theo yang terlanjur penasaran kepada sosok yang bernama KANIA ALENKA. Dan Kania yang bingung terhadap sikap THEO DEWANGGA yang seolah mendekati nya, tapi tak kunjung memberinya penjelasan. Ini murni hasil pemikiran sendiri. Ini buku pertama dan pengalaman pertama author. Tolong hargai dan kasih masukan yang positif. Terimakasih telah berkunjung 🙏.
All Rights Reserved
#137
highschoolromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Love For Rent (Antagonist Love Story)
  • Clause of Us
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG
  • ONESHOOT 21+
  • Silent Traces by the Sea
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines