Hurt Moment

Hurt Moment

  • WpView
    Reads 66
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 21, 2026
Buku ini mengisahkan perjalanan cinta seorang wanita yang begitu tulus dan mendalam, yang rela mengorbankan waktu, tenaga, hingga finansialnya demi menemani pasangannya, Natan, berjuang dari titik nol. Ditulis dari sudut pandang anonim dengan kejujuran yang menyayat hati, cerita ini menggambarkan fase-fase berat dalam melepaskan hubungan yang beracun (toxic) ketika rasa cinta masih ada namun tenaga telah habis. Di akhir perjalanannya, sang penulis membagikan refleksi mendalam mengenai pentingnya menjaga harga diri, menyembuhkan luka lewat keikhlasan yang berjalan pelan, serta sebuah pesan hangat bagi generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan masa muda dan tidak terburu-buru mengenal cinta di saat sedang dalam masa perjuangan hidup.
All Rights Reserved
#394
bertahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines