We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Son of Rion Kenzo

Son of Rion Kenzo

  • WpView
    Reads 395
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 29, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Fantasy
What if Rion Kenzo had a Son? Seseorang yang benar-benar ada dan selama ini... disembunyikan dari dunia. Seorang anak yang tidak pernah diperkenalkan. Tidak pernah disebut. Tidak pernah masuk dalam satu pun daftar yang berkaitan dengan nama sebesar itu. Keberadaannya dijaga dengan cara yang hampir mustahil. Hanya dua orang yang tahu dan memastikan dia tetap hidup jauh dari bayangan dunia itu. Mengawasi. Membimbing. Menjaga... dari kejauhan maupun secara langsung. Itulah alasan kenapa mereka sering menghilang. Pergi ke luar negeri tanpa jejak yang jelas. Karena di sanalah anak itu berada. Tumbuh. Berkembang. Semua ini dilakukan hanya untuk satu hal melindunginya. Karena dengan nama sebesar Rion Kenzo... memiliki hubungan darah dengannya adalah ancaman itu sendiri. Dan ironisnya anak itu tumbuh menjadi seseorang yang sama sekali tidak terlihat berbahaya. Dia mudah tertawa. Mudah bergaul. Selalu berhasil membuat orang merasa nyaman di sekitarnya. Orang-orang mempercayainya tanpa alasan yang jelas. Mendekat tanpa rasa curiga. Bahkan... merasa aman. Dia adalah tipe orang yang akan kamu anggap "nggak mungkin." Tidak mungkin berbahaya. Tidak mungkin terlibat. Tidak mungkin... bagian dari dunia itu. Dan mungkin... itu yang membuatnya paling berbahaya. Karena di saat semua orang melihatnya sebagai seseorang yang aman, tidak ada yang sadar... siapa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Ini bukan cerita tentang Rion Kenzo. Ini tentang sesuatu yang ia sembunyikan dari dunia.. Dan sekarang cerita itu akan dimulai. Stay.
All Rights Reserved
#37
echiceres
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Monsters Under The Bed
  • Home...
  • After A Week {Harris caine x readers} AU Fanfiction
  • MENJADI ADIK DARI SALAH SATU TIGA PILAR!!??
  • COMEBACK??|| THE COUNCIL X FEM READER's || (Slow Up)
  • TNMC X READER
  • ANAK KESAYANGAN || ( tnmc, Noir,)
  • Adik dari Rion Kenzo?!
  • ONESHOOT GTA V
  • [Tokyo Noir Familia] Y/nKrow!!??

"Apa lo pernah merasa diawasi?"Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan yang lahir dari dinding kamar. Evan terdiam di ambang pintu apartemennya sendiri. Kunci masih menggantung di tangannya. Ia menoleh ke belakang, ke lorong yang kosong dan remang. Tidak ada siapa-siapa. Di dalam kamar yang gelap, di ruang yang terlalu sunyi, seseorang sudah lebih dulu berada di sana. Elara menahan napas di bawah ranjang, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Debu menempel di ujung jari dan lututnya, tapi ia tidak peduli. Ia bisa mendengar suara langkah Evan, berat dan lelah, bergerak mendekat. Ia selalu menyukai suara itu, ritme yang sudah ia hafal selama sembilan tahun. Kasur berderit pelan ketika Evan merebahkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, napasnya berubah menjadi lebih dalam, lebih berat, dan tak lama tertidur lelap. Elara tersenyum dalam gelap. Ia merangkak keluar perlahan, berdiri di samping ranjang. Matanya menatap wajah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, terlalu lembut untuk disebut benci, terlalu dingin untuk disebut cinta. Tangannya masuk ke saku celana. Kain itu sudah ia siapkan. "Aku cuma ingin kamu diam," bisiknya pelan, seolah Evan bisa mendengar. Gerakannya cepat. Kain basah yang berbau zat kimia menyengat itu menutup mulut Evan. Pria itu tersentak, matanya setengah terbuka dalam kebingungan. Tubuh Evan bergerak gelisah, tangannya mencoba meraih sesuatu, namun perlahan melemah. Nafasnya terputus-putus sebelum akhirnya jatuh tak berdaya. Tangannya membuka kancing baju Evan satu per satu. Bukan terburu-buru, bukan kacau, semuanya dilakukan dengan kontrol. Telapak tangannya mengusap dada pria itu, lalu turun hingga ke perutnya. Tiba-tiba, ia menekan kuat. Tubuh Evan bereaksi refleks meski tak sadar, bergelojak lemah karena rasa sakit yang tak bisa ia lawan. Elara tersenyum tipis. "Kamu tetap merespons aku... bahkan dikondisi seperti ini."

More details
WpActionLinkContent Guidelines