"Ada beberapa hal yang berhasil dihapus oleh ingatan, tapi menolak mati di dalam perasaan."
Bagi Shena, arsitek urban asal Jakarta, liburan ke Lake Como adalah pelarian taktis dari penatnya pekerjaan, sekaligus cara untuk berdamai dengan "folder kosong" di kepalanya akibat amnesia pasca-kecelakaan lima tahun lalu. Di sana, dia bertemu Lendra, barista dan tour guide lokal yang bekerja di sebuah pizzeria kuno. Hanya dalam dua hari, Shena merasakan keakraban yang tidak masuk akal. Tatapan mata Lendra, caranya mendengarkan cerita random Shena, hingga perhatian kecilnya terasa begitu familier. Seolah-olah, Lendra adalah melodi lama yang Shena hafal ritmenya, tapi dia lupa judul lagunya.
Bagi Lendra, pertemuan ini adalah takdir yang paling sarkas. Shena bukan orang asing. Perempuan itu adalah bagian dari hidupnya yang hilang, dan alasan kenapa dia mengasingkan diri ke Italia. Lendra harus mati-matian memasang topeng profesionalisme, menahan dadanya yang runtuh saat mendengar Shena menceritakan memori tentang 'mereka' yang hilang dengan begitu enteng. Seolah masa lalu mereka hanya barang sepele yang tertinggal di angkutan umum.
Saat waktu memaksa Shena untuk pergi ke kota selanjutnya, Lendra memilih melepaskannya dengan senyum formalitas yang dingin. Namun, tepat ketika kereta menuju Milan hampir tiba di peron stasiun, logika Lendra kalah total. Dia berlari membelah kota, menantang waktu demi mengejar perempuan yang pernah melupakannya.
Ketika seseorang yang kamu lupakan tiba-tiba datang dan mengacaukan seluruh kewarasanmu, apakah kamu akan memilih mengingatnya kembali, atau membiarkannya berlalu bersama kereta yang bergerak pergi?
All Rights Reserved