Endless Commute

Endless Commute

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 24, 2026
Every morning, thousands of people board Jakarta's commuter trains without a second thought. For one crowded women-only carriage, that routine ends the moment their train enters a tunnel. The tunnel should have lasted only a few seconds. It never ends. When the train finally emerges, the world outside is gone. No stations. No signal. No sunlight. Only endless darkness. As panic spreads through the packed carriage, strange webbing begins appearing on the windows. Heavy footsteps echo across the roof. Something enormous is moving above them. One by one, passengers start disappearing. Not hunted. Not killed. Harvested. Trapped inside a place that should not exist, a group of ordinary commuters must uncover the truth before they become the next shipment in a system far older and far larger than humanity could ever imagine. Because the train was never lost. It arrived exactly where it was supposed to be.
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dendam Kenanga
  • My Twins [On Going]
  • Anjing Serigala Kecil Telah Tiba
  • Daddy's Little Babby
  • Terperangkap dalam Gelap (EOS) -TAMAT-
  • Got dropped into a ghost story, still gotta work (1-200)
  • Teror Setan
  • GANJIL
  • DESA PININGIT
  • UNIT KOSONG (TAMAT)

Kenanga, kembang desa yang kecantikannya laksana cahaya bulan. Ia tak pernah tau, pesona yang dianugerahkan padanya adalah kutukan. Senyum manisnya menjadi duri yang menusuk hati para perempuan, sementara bening matanya bagai jerat para lelaki berlidah manis dan berhidung belang. Di balik lirikan dan bisikan, tersimpan nafsu yang mengendap, bercampur dengan dengki yang membara. Hari demi hari, langkah Kenanga diiringi bahaya yang mengintai, makin mendekat dan menunggu saat yang tepat. Hingga suatu malam, di bawah langit pekat, ia dijebak dan diseret ke tempat di mana teriakan tak akan pernah sampai ke telinga siapa pun. Tubuhnya diperlakukan tanpa belas kasih, suaranya terhenti dalam cekikan ketakutan, dan hidupnya direnggut dengan cara yang tak pantas bagi siapa pun. Namun, kematian bukanlah akhir bagi Kenanga. Dari tanah basah yang memeluk jasadnya dan tebaran bunga kenanga yang layu di pusaranya, bangkit dendam yang tak terbendung. Bagi mereka yang pernah menyakitinya, malam-malamnya tak akan pernah sunyi lagi-sebab bisikan kematian kini berjalan di sisi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines