Arkana (27 tahun), dunia adalah selembar partitur yang harus dimainkan dengan presisi dan ketenangan mutlak. Sebagai dosen muda seni musik paling killer dan dingin se-fakultas, ia mendewakan kesunyian di atas segalanya. Namun, benteng keheningan yang ia bangun dengan kokoh runtuh seketika saat kamar di sebelah apartemennya kedatangan penghuni baru: Binar.
Binar adalah pemuda personifikasi dari sebuah kakofoni-ia berisik, cerewet, dan selalu menciptakan kegaduhan yang menguji batas kesabaran Arkana. Ironisnya, pemuda ajaib ini nekat masuk ke Fakultas Seni Musik tanpa tahu satu pun kunci nada, buta cara bermain alat musik, bahkan tidak bisa membedakan fals atau indahnya sebuah nyanyian. Bagi semua orang, tingkah barbar Binar adalah sebuah lelucon. Namun, di balik tawa melengking dan kalimat ceplas-ceplosnya yang tak punya rem, ada alasan memilukan yang ia sembunyikan dengan rapat: sepotong jantung bawaan lahir yang rapuh, yang sewaktu-waktu bisa berhenti berdetak. Binar hanya ingin merayakan sisa detak jantungnya dengan kebisingan, sebelum sunyi yang abadi benar-benar menjemputnya.
Awalnya, Arkana menganggap Binar tak lebih dari sekadar gangguan yang merusak tempo hidupnya. Ujian solfeggio (tebak nada) dan dikte musik digunakannya sebagai senjata untuk mendisiplinkan sang mahasiswa baru. Namun, seiring rahasia medis Binar terkuak, sudut pandang Arkana mulai bergeser. Di mata Arkana, Binar bukan lagi sekadar maba yang buta nada, melainkan sebuah komposisi musik paling jujur yang pernah ia temui.
Todos os Direitos Reservados