Leftover

Leftover

  • WpView
    MGA BUMASA 12
  • WpVote
    Mga Boto 0
  • WpPart
    Mga Parte 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Wed, Jul 8, 2026
Bertahun-tahun Elara datang ke Twilight Café, duduk di meja yang sama, memesan kopi yang sama, hanya untuk menunggu seseorang yang bahkan tak pernah sadar akan kehadirannya. Bagi Ardian, Elara hanyalah pelanggan setia yang entah kenapa tak pernah absen. Dingin, tertutup, dan mengubur dalam-dalam segala perasaan, dia mengira hidupnya cukup hanya dengan kafe dan rutinitas yang sama. Dia tak pernah sadar, bahwa gadis yang selalu dia abaikan itu adalah satu-satunya hal paling berharga yang pernah singgah di hidupnya. Hingga Damian datang-pria yang lebih dulu hadir saat Elara terluka, yang siap memberikan kepastian yang tak pernah Ardian berikan. Saat Elara mulai belajar untuk berhenti menunggu, baru Ardian sadar: dia hampir kehilangan satu-satunya alasan yang membuat dunianya berwarna. Apakah terlambat bagi Ardian untuk berubah? Bisakah dia membuktikan bahwa Elara bukan sekadar "sisa" yang dia abaikan, melainkan rumah yang selama ini dia cari tanpa sadar? 📍 Latar: Surabaya 💛 Cerita Selesai ✔️
All Rights Reserved
#10
ceritaindonesia
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman