SIAPA RADEN?

SIAPA RADEN?

  • WpView
    LECTURES 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 3
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., juin 25, 2026
Nara terbiasa menjalani hari-harinya tanpa menarik perhatian siapa pun.Sampai sebuah sore mempertemukannya dengan sosok yang bahkan tidak menyadari keberadaannya. Motor KLX hitam. Helm full face. Seragam yang tampak berantakan. Dan nama yang terus muncul di mana-mana. Raden Arya Al Fariz Semakin banyak hal yang Nara dengar tentang cowok itu, semakin sulit baginya untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang hanya rumor. Karena ternyata, mengenal seseorang tidak semudah melihatnya dari kejauhan. Siapa Raden?
Tous Droits Réservés
#833
trending
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • The Villain's Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu