We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
SECTION E OF SHS

SECTION E OF SHS

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 25, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Bad Boy
Enemies to Lovers
Romantic Comedy
Section E adalah gedung kumpulan murid-murid nakal dan bermasalah di SHS. Dan Veronica terdaftar menjadi bagian dari Section E karena kepindahannya yang memiliki alasan nilai selalu paling rendah dan sering tertidur saat kegiatan belajar mengajar. Sialnya lagi, Veronica adalah satu-satuannya murid perempuan di Section E. Bagaimana kehidupan sekolah Veronica dengan murid-murid yang terkenal nakal di sekelilingnya? Mari cari tahu sendiri jawabannya dengan membaca ceritanya!
All Rights Reserved
#17
enemytolove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KAMAR 304
  • The Obsession of Serena
  • Kak, Tolong. END!
  • Mi Amore
  • Nerdy Boy (Fake)
  • Amor Fati
  • BUT, I'M YOUR WIFE?
  • 𝐔𝐑𝐆𝐄𝐍𝐓!
  • Tention
  • OBSESSED WITH YOU
KAMAR 304

!!FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!💌 Ini tentang Aruna Ayudya yang harus merawat pasiennya yang keras kepala Febrian Elvarion Raesvara, lelaki lumpuh yang kehilangan arah. yang lelah terhadap dunia, dan pasrah. "Jangan pergi, Runa, aku mohon..." Suara Febrian serak, nyaris pecah. Kedua matanya merah, memohon... tapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar luka-ada kegilaan yang perlahan tumbuh dari kehilangan. "Aku nggak butuh fisioterapi. Aku butuh kamu. Aku butuh kamu di sini, setiap hari, setiap detik." Tangannya yang gemetar menggenggam lengan Aruna lebih kuat. Bukan sekadar mencegah... tapi menahan. Menuntut. "Aku udah kehilangan segalanya, Runa. Keluarga, harga diri, hidupku-semuanya. Jangan paksa aku kehilangan kamu juga. Karena kalau kamu pergi... aku bakal hilang kendali." Ia menyandarkan kepalanya ke sisi perut Aruna. Lembut, tapi sesak. Seperti seseorang yang manja... dan berbahaya. Sentuhan itu bukan sekadar bentuk ketergantungan-itu kepemilikan yang diam-diam ditanamkan. "Kamu sendiri yang bilang mau bantu aku sembuh, kan? Kalau gitu jangan pernah ninggalin aku. Jangan pernah, Runa." Matanya mendongak, menatap Aruna dengan intensitas yang menusuk. "Kamu obatnya. Kamu satu-satunya yang bikin aku waras. Tapi kalau kamu pergi-aku juga akan bawa kamu pergi sama aku. Aku nggak bercanda." Senyumnya tipis, pelan... namun penuh bahaya. "Kamu milik aku sekarang. Nggak akan ada yang bisa ambil kamu dari aku. Bahkan kamu sendiri."

More details
WpActionLinkContent Guidelines