Transmigrasi Jane & Jennie

Transmigrasi Jane & Jennie

  • WpView
    Reads 122
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 4, 2026
"mendekat lo satu langkah lagi, gue laporin lo ke Daddy gue." Jennie. "Laporin aja, biar aku ketemu sama Daddy kamu terus aku minta restu buat nikahin kamu." Jisoo. "Gila!" Lalu melenggang pergi meninggalkan orang yang baru saja di katainya itu. Setelah menyelamatkan dua nyawa dalam satu keluarga, di waktu yang berbeda, Jennie malah dapat hadiah yang menurutnya menyebalkan, seorang lelaki tampan rupawan, malah tak ingin lepas darinya, dan mengklaim dirinya adalah milik lelaki itu, 'oh, bebanku bertambah' monolognya. ~~🐰😻~~ "Niniii... tungguiiinnn..." "Nini nini, lo pikir gue nenek lo!" ~~🐰😻~~ "Jendeuki, kamu lagi apa??" "Stop buat panggilan yang aneh aneh untuk gue!!" ~~🐰😻~~ Anggotanya hanya bisa memutar bola matanya malas, ketua mereka yang dulunya dingin tak tersentuh, tiba tiba menjadi lelaki alay seperti itu.
All Rights Reserved
#584
jensoo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • ✅ Only Tears |Myungsoo x Suzy
  • Nada-Nada cinta(GxG)  [COMPLETE]
  • The Gold-Plated Misunderstanding (Chaennie)
  • The Villain Mother
  • INFINITY
  • My Shining || Jenbin ☑
  • Jove 10 | Stiff heart ✓
  • Almost Married (END)
  • Wife For Oppa

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines