Bagi Jeon Jungkook, kata "keluarga" adalah sesuatu yang asing. Sejak bayi, ia ditinggalkan di depan pintu Panti Asuhan Kasih Bunda dengan selembar selimut usang tanpa nama. Ia tumbuh menjadi anak yang pemalu, bermata bulat besar seperti kelinci, dan sangat tertutup. Saat anak-anak lain berusaha tampil ceria dan menarik perhatian agar diadopsi, Jungkook justru selalu memilih memojok di ruang baca atau membantu Ibu Panti mengupas kentang di dapur. Sifatnya yang penurut dan mandiri membuat seluruh pengurus panti menyayanginya. Namun, waktu terus berjalan. Ketika usianya menginjak 18 tahun, Jungkook tahu ia harus keluar dari panti untuk memberikan ruang bagi adik-adik kecil yang lebih membutuhkan. Dengan uang tabungan hasil kerja sampingannya yang pas-pasan, Jungkook menyewa sebuah kamar kos kecil yang pengap di pinggiran kota. Untuk menyambung hidup dan membayar sewa, ia bekerja shift malam sebagai kasir di sebuah minimarket 24 jam. Kehidupannya sangat monoton dan sepi, namun Jungkook bersyukur karena setidaknya hidupnya tenang. Sampai malam jahanam itu tiba. kuyy yang penasaran baca aja yaa muachhh
More details