Daun Saat Kemarau

Daun Saat Kemarau

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 1, 2026
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA] Alya adalah seorang mahasiswi yang harus kehilangan dunianya dalam satu malam. Kecelakaan tragis di Margonda membuatnya jatuh ke dalam koma panjang, merenggut mimpi-mimpinya, dan meninggalkan trauma yang mendalam. Saat ia mulai belajar untuk berdiri kembali, Alya tidak pernah tahu bahwa seluruh biaya pengobatannya selama ini berasal dari Diaz, pria yang memilih meninggalkan kemewahan hidupnya dan bekerja sebagai kurir anonim demi menebus dosa besar keluarganya. Perjalanan penyembuhan membawa Alya menjauh ke Mataram, Lombok, tempat ia membangun sebuah kedai literasi kecil untuk mencari kedamaian. Di sana, Diaz hadir bukan lagi sebagai pelindung rahasia, melainkan sebagai sosok yang mendampinginya memulai lembaran baru. Namun, di saat kebahagiaan mulai terasa nyata, sebuah rahasia masa lalu yang terselip di antara rak buku tua mengancam untuk meruntuhkan segalanya. Kini, Alya harus memilih: mempercayai cinta yang tumbuh di tengah penebusan dosa, atau menghadapi kenyataan bahwa kecelakaan itu hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar.
All Rights Reserved
#594
novel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines