Semua orang memiliki cara masing-masing untuk hidup dengan dosa.
Sebagian menyangkal keberadaannya. Sebagian membenarkannya. Sebagian lagi memilih menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Lucien tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu.
Baginya, dunia berjalan sebagaimana mestinya; tidak sempurna, tidak adil, tetapi cukup masuk akal untuk diterima.
Hingga suatu hari, seseorang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang terus menghantuinya:
"Jika suatu hari kau melihat sesuatu yang membuatmu tidak lagi mampu berpura-pura tidak tahu-sesuatu yang merenggut kenyamanan mu, mengganggu keyakinanmu, dan memaksamu memilih antara ketenangan atau kejujuran-apakah kau akan berpaling?
Atau tetap melihat?
Karena mungkin, tepat pada saat itulah, seorang pendosa dilahirkan."
Sejak saat itu, hal-hal yang sebelumnya tampak biasa mulai terasa berbeda. Percakapan yang seharusnya terlupakan. Wajah-wajah yang seharusnya tidak berarti apa-apa juga sebuah kenyataan yang perlahan mengikis keyakinannya terhadap manusia, masyarakat, bahkan dirinya sendiri.
Karena semakin dalam ia mencari jawaban, semakin sulit baginya membedakan mana yang disebut moralitas dan mana yang hanya ketakutan yang dibungkus dengan alasan-alasan yang terdengar benar.
Mungkin manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi baik. Atau mungkin mereka hanya terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan dosa hingga tidak lagi mampu mengenalinya.
Namun ada satu hal yang lebih mengerikan daripada itu.
Kesadaran.
Sebab ketika seseorang benar-benar melihat dunia sebagaimana adanya, ia hanya memiliki dua pilihan:
Berpaling ...
atau berubah menjadi sesuatu-dunia anggap membelok dari kesepakatan yang fana.
[Karya ini murni original berdasar tuangan ide dari penulis, tanpa ada tindak plagiat atau hal semacamnya sedikit pun, jadi pembaca bisa memberi rating dan membagikan cerita ini sebagai bentuk positif atas dukungan kepada penulis.]
Terima kasih dan selamat membaca~
Salam, -Vixen.
All Rights Reserved