--- Fake Dating to Real Wedding ---
"Aku udah punya calon sendiri!"
Itu kalimat yang keluar dari mulut Karin Adisty, 24 tahun, dalam keadaan panik tingkat dewa di meja makan keluarga-tanpa sadar kalimat itu bakal mengubah seluruh hidupnya.
Karin capek terus-terusan dijodohin. Tiap kali ada acara keluarga, pasti ada "calon" baru yang disodorkan, dan tiap kali itu pula Karin nolak dengan seribu alasan. Sampai akhirnya orang tuanya kasih ultimatum: kalau dalam waktu dekat Karin nggak nemu calon sendiri, dia harus terima dijodohin. Titik.
Panik, kesal, dan-seperti biasa-nggak mikir panjang, Karin asal sebut nama orang pertama yang muncul di kepalanya: Raka, cowok kantor yang bahkan belum pernah dia ajak ngobrol lebih dari lima kalimat.
Masalahnya, Raka itu kebalikan total dari Karin. Dingin. Cuek. Minim ekspresi. Ngomong sehemat mungkin kayak kuota internetnya mau habis. Sementara Karin? Cerewet, heboh, gampang panik, dan punya bakat alami bikin keputusan paling ngawur di waktu paling nggak tepat.
Tapi entah gimana caranya, mereka berdua sepakat menjalani "hubungan" ini. Awalnya cuma drama settingan biar orang tua Karin berhenti ngejodoh-jodohin. Penuh kesalahpahaman, drama receh, dan tingkah absurd yang bikin Raka berkali-kali mempertanyakan keputusan hidupnya.
Tapi di balik wajah datar dan jawaban dua-kata-doang itu, Raka diam-diam selalu ada. Nganterin tanpa diminta. Inget hal-hal kecil yang bahkan Karin sendiri lupa. Posesif tanpa pernah ngomong kata "cemburu."
Dan semakin lama, Karin sadar-orang yang awalnya cuma "pelarian dadakan dari jodoh paksaan" ini, perlahan jadi orang yang dia tunggu chat-nya setiap malam.
Masalahnya: dia yang terlanjur jatuh duluan. Dan dia nggak tahu kalau
Raka jatuhnya lebih dalam, lebih diam, dan lebih nggak bisa balik lagi.
She fell first. He fell harder. And neither of them are willing to admit it out loud.
Alle rechten voorbehouden