Take Me (To the Altar), Please!

Take Me (To the Altar), Please!

  • WpView
    Reads 535
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 26, 2026
--- Fake Dating to Real Wedding --- "Aku udah punya calon sendiri!" Itu kalimat yang keluar dari mulut Karin Adisty, 24 tahun, dalam keadaan panik tingkat dewa di meja makan keluarga-tanpa sadar kalimat itu bakal mengubah seluruh hidupnya. Karin capek terus-terusan dijodohin. Tiap kali ada acara keluarga, pasti ada "calon" baru yang disodorkan, dan tiap kali itu pula Karin nolak dengan seribu alasan. Sampai akhirnya orang tuanya kasih ultimatum: kalau dalam waktu dekat Karin nggak nemu calon sendiri, dia harus terima dijodohin. Titik. Panik, kesal, dan-seperti biasa-nggak mikir panjang, Karin asal sebut nama orang pertama yang muncul di kepalanya: Raka, cowok kantor yang bahkan belum pernah dia ajak ngobrol lebih dari lima kalimat. Masalahnya, Raka itu kebalikan total dari Karin. Dingin. Cuek. Minim ekspresi. Ngomong sehemat mungkin kayak kuota internetnya mau habis. Sementara Karin? Cerewet, heboh, gampang panik, dan punya bakat alami bikin keputusan paling ngawur di waktu paling nggak tepat. Tapi entah gimana caranya, mereka berdua sepakat menjalani "hubungan" ini. Awalnya cuma drama settingan biar orang tua Karin berhenti ngejodoh-jodohin. Penuh kesalahpahaman, drama receh, dan tingkah absurd yang bikin Raka berkali-kali mempertanyakan keputusan hidupnya. Tapi di balik wajah datar dan jawaban dua-kata-doang itu, Raka diam-diam selalu ada. Nganterin tanpa diminta. Inget hal-hal kecil yang bahkan Karin sendiri lupa. Posesif tanpa pernah ngomong kata "cemburu." Dan semakin lama, Karin sadar-orang yang awalnya cuma "pelarian dadakan dari jodoh paksaan" ini, perlahan jadi orang yang dia tunggu chat-nya setiap malam. Masalahnya: dia yang terlanjur jatuh duluan. Dan dia nggak tahu kalau Raka jatuhnya lebih dalam, lebih diam, dan lebih nggak bisa balik lagi. She fell first. He fell harder. And neither of them are willing to admit it out loud.
All Rights Reserved
#78
arrangedmarriage
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Lucky ⭐ Star :A Lucky Life(Hiatus)
  • HUSH-A-BY | βœ“
  • Bloody Mary || Hiatus
  • Where Memories Fall in Love
  • I Won't Be the Tragic FiancΓ©e
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❀️‍πŸ”₯ "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines