kapten basket vs anak p3k

kapten basket vs anak p3k

  • WpView
    Reads 334
  • WpVote
    Votes 80
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2026
Jeongwoo adalah kapten tim basket sekolah yang dikenal kuat, dingin, dan tidak pernah menunjukkan kelemahan Di lapangan, dia selalu jadi pusat permainan-tempat semua orang mengandalkan kemenangan. Sampai suatu hari pertandingan berubah jadi berantakan lawan bermain curang dalam suatu momen cepat jeongwoo dijatuhkan keras hingga lutut menghantam lantai, suara sepatu teriakan penonton dan peluit jadi satu kekacauan untuk pertama kalinya jeongwoo tidak bisa berdiri. Dia terluka dan harus dibawa ke ruangan P3K di sanalah dia bertemu dengan sosok haruto anak P3K yang terlihat jauh dari bayangan "penolong sekolah" tubuhnya kecil wajahnya lembut bahkan bisa dikira anak pindahan biasa tapi saat bekerja haruto berubah total, tenang fokus, dan tidak panik meskipun saat menangani Jeongwoo. JANGAN LUPA VOTED YA GAYS SESUDAH BACA!!! BXB HOMO JANGAN SALAH LAPAK!
All Rights Reserved
#7
cintasekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines