What If?

What If?

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
Aku selalu berpikir bahwa masa SMA-ku akan berjalan biasa saja-flat. Tidak ada kisah cinta yang istimewa, seperti hal-nya anak sekolah pada umumnya. Tidak ada seseorang yang benar-benar membuatku jatuh hati. Tetapi.., di lubuk hati yang paling dalam aku tetap mengharapkannya, mengharapkan kisah cinta terjadi juga padaku, seperti apa yang telah terjadi di antara teman temanku. Sampai dimana hari itu tiba, hari dimana seseorang berhasil merubah segalanya. Apa yang awalnya hanya kekaguman sesaat perlahan tumbuh menjadi perasaan yang tidak pernah kuharapkan?, ataukah bagaimana? Namun, semakin aku mengenalnya, semakin aku sadar bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak bisa disatukan hanya dengan perasaan. Dan sejak saat itu, aku terus menjalani hari dengan satu pertanyaan yang sama. ~ What If? ~ - A original story by yummynaa Original cover by Pinterest
All Rights Reserved
#236
baper
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines