Ia tidak pernah menginginkan pengakuan. Tidak pernah berharap dianggap sebagai keluarga. Satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah melihat mereka yang telah menghancurkan hidupnya merasakan luka yang sama. Karena dendam tidak pernah benar-benar berakhir. Kebencian tetaplah kebencian. Amarah tetaplah amarah. Maaf tidak akan pernah cukup untuk menghapus semua rasa sakit yang telah ditorehkan. Ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan dengan penyesalan. Dan ada penderitaan yang hanya bisa dibalas dengan penderitaan. Mereka bilang waktu mampu menyembuhkan segalanya. Namun, tidak dengan dirinya. Setiap penghinaan, setiap air mata, dan setiap luka yang ditinggalkan masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Ia tidak menunggu keadilan, Karena Ia menciptakan keadilannya sendiri. Beberapa dosa terlalu besar untuk dimaafkan. Dan beberapa luka terlalu dalam untuk dilupakan. Kini, giliran mereka merasakan apa yang pernah ia rasakan. Sedikit demi sedikit dan Satu per satu. Disclaimer • Karakter para tokoh dalam cerita ini tidak mencerminkan karakter asli dari tokoh asli • Seluruh kejadian dalam cerita merupakan karya fiksi dan tidak ditujukan untuk dikaitkan dengan kehidupan nyata. Selamat Membaca. "Jadilah pembaca yang bijak."
More details