ASIMETRIS

ASIMETRIS

  • WpView
    Reads 208
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureComplete about 23 hours ago
"Gue cuma gak suka ada orang tolol yang gak bisa ngehargain nyawanya sendiri di depan mata gue." Bagi Jo, nyawa itu adalah hak yang terlalu mewah untuk disia-siakan, terutama setelah ia dipaksa menyaksikan sendiri bagaimana sosok yang paling berharga dalam hidupnya terenggut begitu saja. Baginya, setiap detak jantung adalah sisa waktu yang tidak akan terulang, dan melihat orang lain mempermainkan hidup dengan cara yang bodoh terasa seperti tamparan keras atas kegagalannya di masa lalu. Ia bukan sekadar marah karena tidak suka; ia marah karena tahu persis betapa hancurnya dunia ketika seseorang yang seharusnya masih punya ribuan hari untuk dijalani, justru harus berhenti selamanya tanpa sempat merasakan apa-apa lagi. ⚠️Bxb Update setiap hari Senin dan Kamis ya...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Silent Traces by the Sea
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Be My Wife
  • The Dateline [END]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines