Bagi Rina, menyandang status sebagai anak sulung dari keluarga guru agama bukanlah sebuah privilege, melainkan penjara tanpa jeruji. Sejak kecil, hidupnya adalah naskah kaku yang ditulis oleh ekspektasi orang tua. Pendidikannya didikte dari pesantren hingga bangku kuliah, ruang geraknya diawasi layaknya tahanan, dan bahkan kedamaian sesaatnya saat bekerja meracik tanaman herbal harus direnggut paksa. Tujuannya hanya satu: Rina harus menjadi guru SD, tak peduli apakah jiwanya hancur dalam prosesnya.
Kini, setelah meraih gelar S.Pd.GSD, diangkat menjadi ASN, dan mendapatkan sertifikasi pendidik, Rina mengira ia telah membayar lunas "utang budi" pada keluarganya. Ia bersyukur memiliki Roni-suami yang juga seorang anak pertama, namun memiliki hati yang luar biasa sabar, tenang, dan selalu menjadi tameng pelindungnya.
Namun, pernikahan rupanya tak menghentikan intervensi sang Ibu. Tuntutan yang tiada henti, larangan keras untuk melanjutkan pendidikan S2, hingga trauma mendalam akibat kehilangan dua calon buah hatinya membuat kewarasan Rina berada di ujung tanduk.
Di balik sikapnya yang selama ini dipaksa penurut, Rina sebenarnya menyimpan kecerdasan dan ketenangan yang belum pernah ia tunjukkan. Bersama Roni yang siap pasang badan, Rina dihadapkan pada satu pilihan tersulit dalam hidupnya: terus mengalah pada luka yang dibalut kata 'bakti', atau berani melawan demi mimpi dan keluarga kecilnya sendiri?
All Rights Reserved