Burn Me Back

Burn Me Back

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 11 hours ago
"Bakar aku" Tato kupu-kupu di lengan Freya mendefinisikan seluruh hidupnya yang keras. Setelah dikeluarkan dari empat sekolah karena terlibat perkelahian, Freya dikirim oleh seorang pelindung kaya ke sebuah sekolah asrama elite swasta. Di sana, ia bertemu Julian, ketua tim basket yang super protektif, selalu dikawal ketat oleh bodyguard, dan menjadi target perundungan terselubung dari geng anak-anak konglomerat lain yang mengetahui kelemahan Julian.
All Rights Reserved
#690
fiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines