JEJAK HARAPAN

JEJAK HARAPAN

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 27, 2026
Sebuah buku yang menceritakan tentang janji,pengorbanan ,dan mimpi yang diteruskan . Ada orang-orang yang hidupnya begitu sunyi hingga dunia tak pernah mengetahui betapa besar pengorbanan yang telah mereka lakukan. Mereka tidak meminta dikenang. Tidak berharap namanya diukir pada batu. Tidak pula menginginkan balasan. Mereka hanya berharap... Suatu hari nanti, orang yang mereka cintai dapat hidup lebih bahagia. Ayah Aruna adalah salah satunya. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia telah meninggalkan rumah dengan sepeda tua yang rantainya sering terlepas. Tangannya kasar karena bertahun-tahun mengangkat karung beras di pelabuhan kecil kota pesisir. Ketika pulang, matahari sudah tenggelam. Tubuhnya lelah. Tetapi senyumnya selalu sama. "Sudah makan, Nak?" Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Aruna, itulah kalimat yang selalu membuat rumah kecil mereka terasa hangat. Ibunya telah meninggal ketika Aruna masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu hanya ada mereka berdua. Tidak pernah ada pesta ulang tahun. Tidak pernah ada liburan. Tidak pernah ada hadiah mahal. Yang ada hanyalah semangkuk mi hangat saat hujan turun dan pelukan ayah ketika nilai sekolah Aruna bagus. Ayah selalu berkata, "Hidup tidak harus sempurna. Yang penting, jangan berhenti menjadi orang baik." Saat kecil Aruna belum memahami maksudnya. Ia sering iri melihat teman-temannya memiliki rumah besar, sepatu baru, dan keluarga lengkap. Sedangkan dirinya... Bahkan uang jajan pun harus dihitung. Suatu malam listrik padam. Mereka duduk di depan rumah ditemani cahaya bulan. Ayah menunjuk langit. "Lihat bulan itu." Aruna mengangguk. "Kalau suatu hari nanti awan menutupinya, apa bulan benar-benar hilang?" "Tidak." "Benar. Kadang kita hanya tidak bisa melihatnya." Ayah tersenyum. "Harapan juga begitu." Kalimat itu menetap di hati Aruna. Bertahun-tahun kemudian... Ketika hidup mulai menghancurkan segalanya... Barulah ia benar-benar mengerti. Bahwa harapan tidak
All Rights Reserved
#523
comingofage
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines