Blooming After Boredom

Blooming After Boredom

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 27, 2026
Kalau ada lomba manusia paling gabut sedunia, mungkin Zetta bakal masuk tiga besar. Sebagai anak tunggal kaya raya yang semua keinginannya selalu dituruti, hidup Zetta terlalu nyaman sampai rasanya membosankan. Mau jalan-jalan? Tinggal berangkat. Mau beli sesuatu? Tinggal gesek kartu. Mau buka bisnis? Tinggal bilang ke papa. Masalahnya, Zetta tidak pernah benar-benar serius dalam melakukan apa pun. Di tengah kehidupan absurd itu, ada Arkan yang sejak kecil sudah terbiasa menghadapi tingkah random Aruna.
All Rights Reserved
#14
bestseller
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines