Sesi potret

Sesi potret

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 4, 2026
"Aku kira kehilanganmu adalah akhir dari semuanya. Ternyata, itu hanya awal dari cara kita mencintai dengan lebih dewasa." Samudra tidak pernah berniat meninggalkan sahabat-sahabatnya. Theo tidak pernah berniat merebut tempat siapa pun. Liam tidak pernah menyalahkan hati yang memilih orang lain. Di antara persahabatan yang retak, cinta yang tumbuh, dan perasaan yang harus diikhlaskan, mereka belajar bahwa tidak semua orang datang untuk merusak. Ada yang datang untuk mengajarkan bahwa hati manusia bisa bertambah luas, tanpa harus mengurangi tempat bagi orang-orang yang lebih dulu ada. Sebuah kisah tentang persahabatan, cinta pertama, kehilangan, dan rumah yang selalu menunggu kita pulang.
All Rights Reserved
#707
friendship
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines