Zulfa Az-Zahra terbiasa berdiri di antara reruntuhan. Sebagai jurnalis lapangan, ia mahir melaporkan hidup yang luluh lantak dalam hitungan detik dan menjadi suara bagi mereka yang kehilangan. Namun, ia tidak pernah bersiap untuk menjadi reruntuhan itu sendiri. Ia mencintai seorang perwira tulus yang rela menentang dunia demi memuja dunianya. Namun, di tengah pusaran tradisi yang masih mengukur nilai seorang perempuan dari kesuburan rahimnya, cinta saja tidak pernah cukup. Ada ekspektasi keluarga besar yang menuntut kelanjutan silsilah, dan ada satu kenyataan medis di dalam tubuh Zulfa yang tak lagi bisa ia tawar. Kini, Zulfa dihadapkan pada pilihan yang paling sunyi: mempertahankan kebahagiaan egoisnya hari ini, atau melepaskan pria itu demi sebuah masa depan yang dianggap "sempurna" oleh dunia. Ini bukan sekadar kisah tentang kehilangan. Ini adalah potret seorang perempuan yang memilih untuk tetap utuh saat raganya dipaksa hampa. Karena tidak semua perempuan dilahirkan untuk menjadi pintu masuk kehidupan; beberapa di antaranya dilahirkan sebagai tempat bagi luka-luka untuk belajar bernapas. Dan Zulfa Az-Zahra... adalah salah satunya.
More details