The Timeline (The end)

The Timeline (The end)

  • WpView
    Reads 1,365
  • WpVote
    Votes 241
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadComplete Mon, Jul 13, 2026
"Rumah ini rasanya seperti penjara karena sifat Ayah yang menyebalkan! Yudha benci Ayah!" Bagi Yudha, Jayanendra adalah sosok ayah yang menyebalkan. Ayah tunggal yang kaku, terobsesi dengan disiplin, dingin, dan jarang sekali tersenyum. Rumah besar peninggalan kakek-neneknya yang mereka tinggali terasa seperti penjara tak kasat mata. Puncaknya, sebuah pertengkaran hebat pecah di meja makan. Yudha meluapkan amarahnya, mengunci diri di kamar, tanpa tahu itu adalah kalimat terakhir yang bisa ia ucapkan kepada sang ayah. "Kalau waktu bisa diputar kembali, aku gak akan pernah membentakmu malam itu, Ayah." VOTE, KOMEN SEBELUM BACA! BOLEH KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA YA!
All Rights Reserved
#20
sion
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Dream Keepers ✓
  • RAMADHAN WITH ENHA(special 30 Days)
  • Ni-ki the Maknae 🐣
  • Empat Serangkai: Misteri di Balik Sekolah
  • Halo, Aku Sena.
  • 🪨:Like We Were Young┆Jeno-Jaemin AU
  • Enam dibalik pagar
  • Enam Panggung kehidupan
  • Ambulate Ad Beatitudinem

Malam itu, hujan turun secara perlahan, seolah menggantung di udara. Di ruang tamu rumah Bimantara, enam bersaudara duduk melingkar tanpa tahu bahwa malam itu akan jadi malam itu akan jadi malam terakhir mereka terjaga. "Aneh, hujannya kok warna biru ya," gumam Rakyan. "Itu efek lampu kota mungkin dek," jawab Raka datar. Yasya menguap. "Halah bomat yang penting besok gak hujan, aku ada latihan." "Latihan ngelawak, Mas ?" ledek Jagat, membuat yang lain tertawa kecil. Saka menatap butiran hujan di tangannya. Aneh, air itu tidak menghilang meski ia tiup pelan. "Kak Samu, liat ini deh." Saat Samuel mendekat, butiran itu menyala biru dan mengembang, mengisap udara di sekitarnya. Kantuk aneh mulai menyelimuti mereka. "Eh kok ngantuk banget ya..." bisik Yasya sebelum rebahan. Samuel mencoba melawan, tapi dunia memudar jadi kabut biru. Sebelum gelap menelan semuanya, terdengar bisikan Saka, "Tenang aja, Kak. Di sini kita bisa mimpi selamanya." ... Saat Samuel membuka mata, langit berwarna ungu muda. Rumah mereka lenyap. Di ujung jalan, berdiri sesosok yang sedang menangis. "Raka ?" panggilnya. Namu saat menoleh, wajah itu adalah miliknya sendiri, pucar, kosong dan tersenyum. "Selamat datang di dunia mimpi yang tak bisa kau tinggalkan." ... Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Bimantara malam itu ? Apakah mereka tertidur atau terperangkap di mimpi mereka sendiri ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines