Walk Me Home

Walk Me Home

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 1, 2026
Zya tidak pernah menyangka, konser pertamanya justru menjadi awal dari kisah yang tak pernah ia rencanakan. Di tengah ribuan manusia, ia bertemu seorang laki-laki berjaket hitam yang awalnya hanya dianggap "cowok aneh". Tak ada kesan istimewa. Tak ada rasa yang langsung tumbuh. Namun, siapa sangka semesta mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama sekali tidak mereka duga-sebuah pesantren yang mengajarkan bagaimana menjaga pandangan, menjaga batas, dan menjaga hati. Di sana, cinta tidak tumbuh dari kata "aku sayang kamu", melainkan dari doa-doa yang diam-diam dipanjatkan, alasan sederhana untuk saling bertemu, dan kesabaran yang tak pernah meminta untuk didahulukan. Di tempat yang mengajarkan bahwa menjaga hati adalah bentuk cinta yang paling sederhana, Zya dan Bian belajar bahwa pertemuan mungkin adalah takdir. Namun, untuk tetap bertahan hingga akhir... mereka harus memilih untuk saling menunggu. Simak kapal Zyan akan berlabuh kapan #Larangankerasbagiparaplagiat #Hargaitulisanoranglain
All Rights Reserved
#8
slowpaced
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines