~Prolog~
Ada satu hukum tidak tertulis yang diam-diam disepakati oleh hampir seluruh mahasiswa Jurusan Sosiologi jangan pernah menempatkan Rembulan dan Danendra Yosian di dalam satu konstelasi yang sama.
Jika Rembulan adalah api yang meletup-letup, vokal, ekspresif, dan selalu bergerak mengandalkan insting emosionalnya.
Maka, Danendra Yosian adalah antitesis sempurna. Cowok itu ibarat gunung es abadi di menara gading fakultas. Dia genius, perfeksionis, jarang membuka mulut jika tidak penting, namun bisa mendadak sangat mematikan lewat rentetan kalimat jujurnya yang kelewat dingin saat mengoreksi kesalahan orang lain.
Bagi Bulan, Danendra Yosian adalah lambang keangkuhan tingkat dewa. Seorang musuh bebuyutan yang dengan teganya meruntuhkan harga diri Bulan di depan umum sejak semester satu, meninggalkan luka rasa malu yang terus membekas. Sementara bagi Yosian, Rembulan hanyalah sebaris nama di lembar absensi kelas yang tidak pernah ia gubris secara personal.
Dua tahun lamanya mereka terjebak dalam perang dingin yang melelahkan. Saling melempar tatapan sinis di sepanjang koridor kampus, dan beradu urat saraf setiap kali presensi memaksa mereka berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang sudi menurunkan ego. Namun, bagaimana jadinya jika semester empat ini memaksa si api dan si gunung es untuk meluruhkan jarak?
Ketika sebuah tugas besar menuntut mereka duduk berdampingan di bawah satu nama kelompok, mereka dipaksa menghadapi variabel-variabel tidak terduga yang selama ini sengaja mereka hindari.
Saat keheningan malam mulai mengikis batas gengsi, dan benteng permusuhan dua tahun itu perlahan mulai diguncang oleh sesuatu yang tak terduga... apakah mereka akan menemukan akhir dari sebuah kesalahpahaman? Atau justru, terjebak dalam teori baru tentang detak jantung yang salah?
Karena dalam sosiologi, setiap interaksi selalu menghasilkan perubahan. Dan bagi Danendra serta Rembulan, perubahan itu baru saja dimulai.
✨💐
Creative Commons (CC) Atribuição