Pada tahun Siderum Era (S.E.) 2215, peradaban manusia telah berada di ujung kepunahan. Wilayah tengah bumi telah berubah menjadi No Man's Land, hamparan hutan belantara mematikan yang dikuasai oleh miliaran kawanan Amalgam. Mereka bukan sekadar monster biasa, mereka adalah perpaduan mekanis laboratorium dan mutasi biologis, rahim dari dosa global masa lalu yang bangkit kembali untuk menyapu bersih seluruh umat manusia dengan kecerdasan superior yang mengerikan.
Satu-satunya cahaya yang tersisa berada di Ujung Timur, di balik marmer putih dan katedral megah The Holy See of San Stella Maris. Terlindung oleh Dinding Eden setinggi seratus meter, negara religius ini memegang teguh hukum suci Noblesse Oblige, bahwa hak istimewa menuntut pengorbanan tertinggi. Demi menebus dosa para leluhur yang ikut mendanai penciptaan Amalgam, anak-anak remaja kasta bangsawan paling terpelajar wajib maju ke garis depan paling mematikan.
Di ujung perbatasan terluar yang terisolasi di dalam hutan reruntuhan, berdiri Skuadron Polaris (The North Star). Beranggotakan dua belas pemuda berusia 14 hingga 18 tahun, pikiran dan emosi mereka saling terikat dalam satu jaringan saraf bernama Stigmata Comm-Link. Di dalam kokpit mecha multipod berkaki banyak bernama Seraph, mereka adalah tameng pertama sekaligus umpan terakhir negara.
Di bawah kepungan malam dan waktu yang terus menyusut, Skuadron Polaris harus mengemban misi rahasia: menembus jantung No Man's Land demi menemukan koordinat laboratorium terlarang yang hilang. Ketika takdir memaksa mereka bersinar terang bagai sebutir Supernova sebelum akhirnya padam, mampukah dua belas remaja ini bertahan, ataukah mereka hanya akan menjadi rasi bintang kenangan (Constellation) yang diukir di dinding batu katedral?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang