We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Terima Kasih, Ayah. [TAMAT]

Terima Kasih, Ayah. [TAMAT]

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 1, 2026
WpInfo
Non-Fiction
Journal / Diary
Bagaimana jika kesempatan terakhir untuk meminta maaf ternyata sudah terlewatkan? Kita sering terlambat menyadari bahwa cinta terkadang disembunyikan di balik ketegasan yang menyakitkan. Bagi saya, Ayah adalah sosok yang tak pernah pandai merangkai kata 'sayang', hingga sebuah kepergian yang mendadak memaksa saya membaca bahasa hatinya yang tak terucap. Ini adalah catatan tentang penyesalan, impian yang kandas, dan upaya berdamai dengan lubang besar di hati yang tak pernah benar-benar menutup. Sebuah surat yang mungkin takkan pernah sampai, namun harus tetap ditulis agar saya bisa melangkah.
All Rights Reserved
#90
memoar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Silence Behind The Spotlight (END)
  • Aksara Ambang Asa
  • Don't Obsessed with Me
  • Red String of Fate [TERBIT]
  • Twin Flame (Silent Love)
  • Rumah itu bernama LEO
  • 𝐕𝐚𝐥𝐞𝐭𝐡𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧
  • The Crownless Mage
  • TENTANG ARKANA
  • BEFORE SERAPHINE

❌ DILARANG COPY PASTE CERITA ⚠️ BUDAYAKAN KREATIF SENDIRI TANPA MENJIPLAK ❌ "Tersenyum, Leony. Penonton tak perlu tahu kau hancur." Di balik gemerlap kostum dan gemuruh tepuk tangan, Leony menyimpan luka yang tak terlihat. Trauma yang ia pendam dalam diam, lahir dari perlakuan tidak pantas yang ia alami di balik panggung. Namun ia tak pernah benar-benar berani bersuara, karena setiap kali ia ingin bicara, suara orang tuanya terdengar lebih keras daripada suara hatinya sendiri. "Kalau aku bicara, siapa yang akan percaya?" Ketika tubuhnya mulai kelelahan dan jiwanya ingin menyerah, Leony justru dituntut lebih keras. Untuk menang, sempurna, terus menari. Tapi sampai kapan ia harus bertahan demi mimpi orang lain, sambil mengorbankan dirinya sendiri? Di panggung yang selalu menuntut segalanya darinya, Leony mulai menyadari satu hal. Kadang keberanian bukan soal memenangkan kompetisi, tapi soal menyelamatkan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines