Illicit Affairs

Illicit Affairs

  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Jul 2, 2026
Jessica mengira perasaannya pada Osean telah berakhir sejak dua tahun lalu. Namun, pertemuan mereka dalam kelas mata kuliah umum yang sama membuat semua yang selama ini terkubur kembali hidup. Tidak hanya itu, seolah semesta belum puas untuk bermain-main dengan perasaanya, nama Jessica dan Osean kembali dipertemukan dalam kelompok KKN yang sama. Masalahnya, Osean bukan lagi laki-laki yang bebas untuk dicintai. Belakangan Jessica mengetahui bahwa Osean telah memiliki seseorang yang begitu ia sayangi. Jessica tahu ia seharusnya mundur. Ia tahu setiap perhatian yang Osean berikan hanyalah bentuk kebaikan kepada seorang teman. Namun, bagaimana jika perhatian sederhana itu justru terasa begitu hangat bagi seseorang yang diam-diam telah menyimpan namanya selama bertahun-tahun? Barangkali beberapa kisah memang tidak ditakdirkan untuk dimulai. Tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk mengakhirinya?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#882
affair
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • The Villain Mother
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Hello, KKN!
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Be My Wife
  • Nala dan Mas Juragan
  • My Celestia [ON GOING]
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan