The Last Layover

The Last Layover

  • WpView
    Reads 481
  • WpVote
    Votes 71
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 2 hours ago
The last layover Daniel Mahendra (34) tidak pernah membayangkan dirinya akan kembali ke Indonesia untuk memimpin Mahendra Air, maskapai penerbangan warisan keluarga yang sedang berada di ambang krisis. Demi menyelamatkan perusahaan yang dibangun ayahnya, Daniel meninggalkan karier yang selama ini ia banggakan dan mengambil keputusan-keputusan yang membuatnya dicap sebagai CEO paling dingin dalam sejarah perusahaan. Baginya, bisnis adalah angka, efisiensi, dan keberanian memangkas apa pun yang menghambat laju maskapai. Di sisi lain, Ivy Adristi (29) telah menghabiskan hampir satu dekade sebagai pramugari senior. Langit adalah rumah keduanya. Ia percaya bahwa menjadi awak kabin bukan sekadar menyajikan makanan atau tersenyum kepada penumpang, melainkan menjaga ratusan nyawa tetap merasa aman hingga pesawat kembali menyentuh landasan. Di balik profesionalismenya, Ivy menyimpan impian sederhana yang tak pernah sempat ia kejar karena hidup selalu memintanya mendahulukan orang lain. Pertemuan pertama mereka berlangsung buruk. Ivy menganggap Daniel sebagai pemimpin yang tidak pernah benar-benar memahami kehidupan di balik pintu kabin. Sementara Daniel melihat Kala sebagai karyawan yang terlalu berani mempertanyakan kebijakan perusahaan di depan banyak orang. Namun sebuah penerbangan yang berubah menjadi keadaan darurat memperlihatkan sisi lain dari keduanya. Daniel menyaksikan sendiri bagaimana Ivy tetap tenang saat seluruh kabin dipenuhi kepanikan. Ivy pun mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Daniel, ada seseorang yang memikul beban menyelamatkan ribuan pekerjaan dan sebuah warisan keluarga yang nyaris runtuh. Sejak hari itu, jalan mereka terus bersinggungan. Dari ruang rapat yang penuh perdebatan hingga bandara-bandara di berbagai kota, mereka dipaksa bekerja sama untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap Mahendra Air.
All Rights Reserved
#1
zhoukeyu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines