Hidup sendiri sebagai budak korporat di tengah hiruk-pikuk Osaka membuat Sora terbiasa menjalani hari dalam mode bertahan hidup. Di usia yang ke-24 tahun, dunianya hanya berputar di antara rentetan coding, omelan dari atasan, onigiri instan, dan impian sederhana memiliki rumah minimalis. Sora terlihat tenang, sinis terhadap romansa, dan sangat mandiri. Namun, di balik topeng ketangguhan itu, ada sebuah luka menganga yang terkunci rapat di dalamnya.
Setiap kali melangkah ke pemakaman dengan buket krisan putih, pertahanan Sora selalu runtuh. Baginya, separuh jiwanya telah mati di masa lalu-terkubur bersama pria yang meninggalkan trauma mendalam sejak memasuki usia 20 tahun.
Sora meyakini pria itu telah tiada. Ia memilih "membunuh" pria itu dalam ingatan dan imajinasinya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri agar hatinya tidak hancur berkeping-keping.
Sebuah kisah tentang luka masa lalu, beban hidup kedewasaan, dan rahasia kelam yang disembunyikan oleh pikiran sendiri.
Todos los derechos reservados