⚠️ Cerita ini mengandung adegan kekerasan, mohon bijak dalam membaca ⚠️
Cafe selalu bising oleh mesin espresso dan tawa pengunjung. Tapi bagiku, tempat ini adalah persembunyian terbaik. Di balik apron hitam dan kepulan uap kopi, aku bisa menjadi Senandika yang sebenarnya-perempuan yang memilih berbicara pada hati sendiri yang patah, alih-alih membaginya dengan dunia.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik topeng datarku, hidupku adalah sebuah neraka berjalan. Tubuh pucat ku adalah kanvas dari sisa-sisa siksaan fisik kejam Kak Ren dan sepasang mata heterochromia milikku dianggap sebagai kutukan yang harus kusembunyikan di balik softlensgelap. Aku sudah lama mati rasa. Aku memilih bertahan hidup dengan satu cara: berdiri di depan cermin, lalu menertawakan takdir kejam ini.
Sampai suatu hari, seorang laki-laki memesan Americano tanpa gula. Dia menatap mataku terlalu lama, seolah tahu ada badai yang sedang aku sembunyikan.
Pria itu adalah Skala. Dia tidak hanya dengan lancang membaca Senandika sunyi yang kutumpahkan di balik nama pena Aurora, tetapi juga menjadi orang pertama yang merebut belati dari tanganku dan mendekap kehancuranku dengan teramat tulus. Namun, di saat rumahku semakin menggila dan rahasia kelam masa lalu mulai terkoyak, traumaku justru menuntutku untuk tetap bersikap sarkas dan mendorongnya menjauh.
Ketika luka harus ku akui sebelum bisa disembuhkan, akankah aku terus berlari menerobos badai ini sendirian, atau menurunkan senjataku dan membiarkan Skala menjadi tempatku pulang?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang