Sepuluh tahun lebih Rohman meninggalkan Desa Cempaka Hitam dan memilih hidup jauh di kota. Ia berusaha melupakan rumah tua yang pernah ia tinggalkan, juga kenangan tentang malam-malam ganjil yang dulu membuatnya takut tidur sendiri. Namun semuanya berubah ketika kabar kematian neneknya memaksanya pulang.
Kepulangan itu awalnya hanya dianggap sebagai urusan keluarga. Mengurus pemakaman, membereskan rumah tua, lalu kembali pergi. Tetapi desa itu tidak lagi sama. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, warga berbicara seakan takut didengar, dan setiap kali matahari tenggelam, ada satu larangan yang selalu diulang: jangan keluar setelah jam tiga.
Di rumah tua peninggalan neneknya, Rohman mulai mengalami hal-hal yang tidak masuk akal. Tangisan perempuan terdengar dari belakang rumah. Bau melati muncul tanpa sebab. Lampu padam pada waktu yang ganjil. Dan di sudut-sudut gelap, sesosok perempuan berambut panjang seolah selalu mengawasinya.
Awalnya Rohman menolak percaya. Ia menganggap semua itu hanya ketakutan warga desa yang terbawa mitos lama. Tetapi ketika ia menemukan catatan tua, nama yang sengaja dihapus, dan jejak tragedi yang terkubur bertahun-tahun, ia sadar bahwa teror ini bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu di masa lalu desa itu yang belum selesai.
Semakin dalam Rohman menggali, semakin jelas bahwa kuntilanak yang menghantui desa bukanlah arwah biasa. Sosok itu terhubung dengan rahasia keluarga, pengkhianatan lama, dan kematian seorang perempuan yang nasibnya disembunyikan dari sejarah desa. Kini arwah itu kembali bukan hanya untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menuntut agar nama yang dilupakan itu diingat kembali.
Di antara rasa takut, penyesalan, dan rahasia yang mulai terbuka satu per satu, Rohman harus memilih: melarikan diri seperti dulu, atau menghadapi kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya sendiri.
All Rights Reserved