"Aku tidak mencintai kamu, Karang. Sudah tidak."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi rasanya seperti batu yang dilemparkan ke dada Karang, tenggelam jauh ke dasar yang paling dalam. Angin malam di tepi laut membawa suara Jingga dengan getir yang tak bisa disamarkan. Ombak pecah di belakang mereka, berisik, seperti ikut menertawakan bagaimana cinta sebesar itu bisa runtuh hanya dengan tujuh kata.
Ia tahu, perempuan itu akan pergi.
Bisa jadi karena cinta di antara mereka mati, ah tidak, justru karena cinta itu terlalu besar, terlalu berat, sampai Jingga merasa bersalah menanggungnya. Dan Karang, dengan segala diam dan lukanya, tak cukup cepat untuk menggenggam sebelum semuanya runtuh.
Karang berdiri diam. Tangannya bergetar, Ia tidak marah, tapi itu karena tubuhnya menolak percaya. Ia sudah terbiasa dengan sunyi, terbiasa dengan kehilangan, tapi tidak pernah terpikir kehilangan ini akan datang lewat bibir yang selama ini justru membuat dunia terasa lengkap.
Jingga menunduk, matanya basah, tapi suaranya berusaha tegas.
"Semua ini terlalu melelahkan. Masa laluku, orang-orang yang tak berhenti menuntut, obsesi yang mengekorku kemana pun... aku sudah capek, Karang. Dan aku tahu kamu capek juga. Jadi biarkan aku pergi. Aku tidak mau kamu hancur hanya karena aku."
Karang ingin berteriak. Ingin berkata bahwa ia tidak pernah menyesali satu pun luka yang datang bersama Jingga. Bahwa seluruh beban itu tidak pernah terasa seberat kehilangan dirinya. Tapi suaranya patah, hanya bergema dalam hati karna yang terdengar hanyalah debur laut, lautan yang dulu jadi rumah, kini berubah jadi jurang.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang