Alya Putri Maharani memasuki semester lima dengan amanah baru sebagai Wakil Ketua LDK. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswi berprestasi, sederhana, dan penuh semangat. Namun, amanah itu mempertemukannya dengan Zaqif Arsyad Wijaya, Ketua BEM yang hampir selalu mengkritik setiap proposal organisasi, termasuk LDK.
Perbedaan cara pandang membuat keduanya kerap berselisih. Alya menganggap Zaqif terlalu kaku dan tidak memahami pentingnya dakwah kampus, sedangkan Zaqif percaya bahwa setiap kegiatan, sebaik apa pun tujuannya, harus direncanakan dengan matang demi keselamatan dan tanggung jawab bersama.
Di tengah konflik tersebut, Farhan sebagai Ketua Umum LDK berusaha menjadi penengah. Tanpa pernah mengungkapkan perasaannya, ia mendukung Alya dalam diam sambil mempersiapkan diri memenuhi harapan keluarganya untuk melanjutkan studi ke Mesir.
Perlahan, Alya mengetahui bahwa di balik sikap dingin Zaqif tersimpan luka masa kecil yang membuatnya sulit memandang kegiatan keagamaan secara sederhana. Rasa kesal berubah menjadi empati, tetapi keduanya tetap menjaga batas dan memprioritaskan amanah organisasi.
Ketika berbagai fitnah, tekanan akademik, dan persoalan keluarga datang silih berganti, mereka belajar bahwa menjadi pemimpin berarti siap dikritik, siap berkorban, dan siap mengutamakan kepentingan orang banyak.
Author © 2026
All Rights Reserved