⚠️ WARNING ⚠️
1. Cerita ini mengandung konflik batin, rasa kecewa terhadap figur guru, dan eksplorasi tema ikhlas vs pamrih.
2. Ada adegan kebencian, dialog ketus, dan perasaan depresif ringan. Bijak dalam membaca.
3. Hubungan guru-murid di cerita ini TIDAK ROMANTIS. Hanya sebatas kekaguman murid ke guru yang berubah jadi luka. No student-teacher romance.
4. Bukan untuk menyudutkan profesi guru atau ajaran agama. Murni fiksi untuk refleksi tentang niat dan keikhlasan.
5. Karakter di sini bisa salah, bisa egois, bisa kekanak-kanakan. Karena mereka remaja yang sedang belajar.
Jika kamu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, please talk to someone you trust. Rana, Elyana, Aura-nya versi real life kamu pasti ada.
Rank: Teen | Slowburn Angst | Friendship & Self-Healing
________
Namanya Arana. Rambut hitam selebat doanya, selalu tersembunyi rapi di balik jilbab putih.
Setiap jam 7 pagi, Dark Tree High School masih sepi. Hanya ada Arana, sapu, dan mushola yang ia bersihkan diam-diam. Ikhlas. Sampai Silvana dan Riska datang, melakukan hal yang sama-tapi dengan amplop 300 ribu dari Pak Daffian.
Pak Daffian. Guru agama favoritnya. Lelaki yang dulu sering menemaninya menyapu dalam diam.
Semenjak itu, jilbab putihnya terasa berat. Rompi abu-abunya kini sama kelabunya dengan hatinya. Di kelas, saat Pak Daffian mengajar, Arana hanya bisa bungkam. Sampai akhirnya kata itu lolos: "Saya benci Bapak."
Dan Pak Daffian hanya menjawab, "Iya." dengan nada yang membuat Arana makin benci.
Untung ada Rana, Elyana, dan Aura. Tiga sahabat yang tetap duduk di sampingnya, bahkan saat Arana jadi gadis paling dibenci di mushola yang dulu ia anggap rumah.
Ini bukan cerita tentang uang 300 ribu. Ini cerita tentang harga sebuah keikhlasan.
All Rights Reserved